Senin, 28 Oktober 2013

Belum Sempat Dikalimatkan

sesungguhnya itu berawal dari kejadian yang tak pernah terprogram dengan sengaja pada acara serial drama dalam sebuah kotak mesin audio visual, dengan berbagai macam cerita dan tambahan tambahan play-list lagu-lagu pilihan sebagai suara latar pada tiap-tiap ending ending yang dianggap bahagia, waktu yang mengerti uforia tepat mengenai simpul tubuh sensitifmu, laki-laki yang tak pernah kau ketahui maksudnya, dan segala macam tingkahnya kau jadikan wangi-wangian yang tak henti-hentinya kau semprotkan.

hampir sebagian tubuhmu mengharuskannya datang, membawa beberapa tangkai bunga harapan berharap selanjutnya mengembang bersama wewangian-wewangian. bagian dari sisi lain tubuhmu ikut serta ingin sekali datang menjemputmu seolah pangeran menjemput ratu inggris yang diagung-agungkan oleh rakyatnya, duduk manis diatas kursi kayu dari negeri sana, bersemuka diatas meja yang rupawan, megah lukisan-lukisan sebagai artistik serta hidangan-hidangan kerajaan, instrumen klasik sebagai latar suasana serta barisan lilin-lilin menyala sebagai penerang ruang. lamunan-lamunan yang selalu saja terulang dalam sebuah imajimu.

kalau saja Doa bisa langsung terkabul, kalau saja harapan pada bintang jatuh itu nyata, dan kalau saja semua itu benar-benar nyata lantas kau mau apalagi kalau tidak memintanya yang benar benar kau harapkan secentimeter mungkin tepat ada di sebelahmu? berharap selalu menjaga ketika kau pulas tertidur, berharap memecah kemurungan yang pasti akan tercipta, berharap menjadi penghangat tubuh ketika mulai merasa kedinginan, berharap mengarahkan kembali ke jalan yang mulai melenceng, berharap memimpin untuk sekedar berdialog dengan tuhanmu.

akan tetapi, hidup itu terus bergerak, tak mungkin kembali, waktu akan selalu berubah, hari pasti akan berganti, hidup akan selalu seperti ini, meninggalkan siapa siapa yang sengaja melambatkan jalannya, memaksa kita menarikan cerita-cerita yang masih menjadi rahasia, tak terkecuali.

kau tak lagi berani, kau tak lagi berani menyatakan kejujuran yang sampai detik sedihmu telah berjalan beberapa halaman kehidupan kemudian menyudutkanmu dan memaksa memangkas semua rangkaian ranting-ranting keinginanmu yang kemarin benar-benar kau rawat.

ditaman itu tempat biasa laki-laki itu meluangkan waktunya untuk sekedar berpikir ringan sekaligus melepas kesibukan yang dirangkulnya, kau menemukan tanda-tanda, mengais sisa-sisa yang ditinggalkannya, dijadikan sebagai bahan penelitian atas keanehan yang sering kau jumpai belakangan ini. diata meja kesanyanganmu dan dengan sinar lampu tempel sebagai penerang ruang rahasia itu, kau sudah mulai membaca, meraba, melumat-lumat habis maksud dari aisan sisa-sisa ditaman itu.

selepas melumat-lumat habis aisan itu, gerakmu kini hanya diam, sinar lampu tempel, segelas teh yang kau seduh beberapa jam yang lalu, detikan jarum jam dinding binatang pilihanmu adalah teman setia saat ini, kemudian malam tak berdaya dikalahkan pagi.

sampai pada waktu yang tak pernah mau berpihak, kau masih saja belum menyudahi kesedihan itu, kau tak lagi menganggap mata-mata yang sedang mencoba meraih kesedihan itu, kau tak peduli. tak semudah itu keadaan sampai sejauh ini akan dengan sendirinya menjadi sebuah sejarah, sejarah yang belum menggenggam akhir dari penemuan-penemuan, sejarah yang belum mendapat pengakuan dari beberapa pihak, sejarah yang entah kapan kau sudah memilih waktu untuk menjadi sebuah sejarah?

dengan memaksa benar-benar untuk menyudahi kesedihanmu yang belum tahu apa harus benar-benar ingin tersudahi, dan karena waktu lagi-lagi mendesakmu, kau mebiarkan itu semaunya.

bersama keputusan yang kau buat sendiri, kini kau mulai membangun sebuah tembok sebagai pembatas yang tak mudah untuk ditembus, dihantam, bahkan dihancurkan sekalipun, mengubur sendi-sendi keinginan yang belum sempat nyata, memcuci bersih gelas minuman sebagai pemicu imajimu kemarin dan kau sudah mulai berani melukis lagi diatas kain putih itu bersama keinginan baru yang mulai lagi kau hangatkan, berharap terang benderangnya itu benderang seperti benderangnya harapan baru ini dan tak sedikitpun lagi menyimak rekaman sejarah itu.


                                                                                                            kwaron, 28 oktober 2013


2 komentar:

  1. Yah, mungkin, lupa bisa menjadi cara melawan luka.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau saya di beri pilihan Lupa atau Ingat maka saya akan Ingat, sehingga saya bisa tetap berjalan sewajarnya di kehidupan yang chaos ☺

      Hapus

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.